A
Posse Ad Esse adalah
jargon GIMSCO 2016 yang bermakna “dari kemungkinan
menjadi kenyataan”. GIMSCO (Gadjah Mada Indonesian Medical Science
Olympiad) 2016 mengusung tema “Sparkling Jogja”. Sparkling, memiliki
arti berkilauan. Selain sebagai ajang ilmiah mahasiswa Fakultas Kedokteran se –
Indonesia dengan tema “Sparkling Jogja“ atau “Jogja berkilauan”, GIMSCO
juga berperan dalam membuat Jogja semakin bersinar di Indonesia melalui budaya
dan keramahan Jogja.
Saya sudah mengetahui
mengenai lomba ini sebelumnya; sejak saya belum menjadi asisten Anatomi di FK
UNTAD, ketika senior saya angk.2012 yang asisten anatomi, mengikuti lomba ini.
Sejak mendengar kabar itu, saya juga bercita-cita mengikuti lomba ini. Singkat
cerita saya mendaftar asisten anatomi dan diterima.
Pada tahun ini saya juga
telah mendaftar seleksi IMO yang diselenggarakan oleh HMPD FKIK UNTAD, dan saya
berhasil lolos menjadi delegasi IMO 2016. Pada pertengahan September kalau
tidak salah ingat, saya diterima menjadi asisten anatomi, dan pada tanggal 12
-16 oktober, saya angkan berangkat IMO, nah, sekitaran 5 hari sebelum berangkat
IMO saya diberitahu bahwa saya akan menemani ketiga senior saya angk. 2013 yang
asisten anatomi untuk berangkat GIMSCO, meskipun rumor bahwa saya akan ikut
serta di GIMSCO Tahun ini sedah tersiar ditelinga saya 1 minggu setelah saya
diterima menjadi asisten anatomi, tetapi kepastiannya yah H-5 IMO. wah cukup
kaget dan senang, tapi juga menjadi beban, karena saya berpasangan sama kak adi
yang tahun kemarin merupakan satu-satunya asisten 2013 yang ikut sama seniornya
angk. 2012 di GIMSCO 2015, dan juga kak adi ini meraih peringkat 8 tentamen
pada GIMSCO 2015. Apalagi ketika saya ikut IMO, teman angkatan kak adi,
mengatakan kesaya, “belajar baik-baik yah pascal, soalnya adi target final itu
tahun ini”… jeng… jeng.. bisa dipikirkan perasaan saya saat itu, hahahah.
Saya pulang dari IMO (UPH) Tanggal
17 Oktober, dan saya harus mempersiapkan segalanya untuk mengikuti gimsco hanya
selang 10 hari, karena tanggal 27 saya harus berangkat lagi ke Jogja untuk
mengikuti GIMSCO 2016 ini. 10 Hari saya berusaha belajar anatomi terus, dan
sedikit mnegesampingkan blok saya di UNTAD yaitu blok 13, karena memang saya
agak kurang suka materinya. Saya belajar anatomi, terutama buat anatomi yang
belum saya lewati bloknya, yaitu urologi, reproduksi, sense organ dan nervus
system, waww, sangat banyak brohhh. 10 Hari saya hanya berhasil tamat urorepro
dan juga sense organ, sisa nervus yang belum saya sentuh, hanya anatomi
superficialnya saja. Sedagankan itu biarpun sudah tamat, yang lain, saya ragu
akan kemampuan saya untuk mengingat yang hanya sekali baca cepat tanpa pengulangan. Siap tidak siap akhirnya
saya berangkat tanggal 27 pagi ke jogja.
Tahun ini kami; Delegasi
GIMSCO 2016 berjumlah 4 orang atau 2 tim saja. Seperti yang saya ceritakan
sebelumnya, saya tim B berapasangan dengan kak Adi, kalau mau tau siapa saya
silahkan cek di footer web ini atau di menu bar dan klik who’s pascal?...
hahah, dan tim A ada kak Putsol dan kak Chesy.Mereka semua angkatan 2013, dan
saya sendiri yang angk. 2014. Berbeda dengan IMO kemarin kami 3 orang angk.
2014 dan 5 orang angk. 2013. Menjadi “delegasi lomba” yang sendirinya junior
diantara para senior itu rasanya, ……, hahah.
Sampai dijogja, kami dijemput LO kami yaitu Orisativa Kokasih, dan langsung menuju FK UGM, wow, sampe juga di FK idola seluruh anak SMA
di Indonesia. Kami di jogja menginap di hotel wisma UGM binaan mahasiswa
magister management UGM. Awalnya saya sekamar dengan anak UPN Veteran, UMM, dan
Anak lambung mangkurat, bercerita-cerita dengan mereka, ternyata UNTAD cukup
ditakuti bagi mereka berhubung pada GIMSCO 2015 3 tim utusan kami, berhasil
tembus semifinal, namun belum beruntung ke Final. Saya juga sekamar sama anak
Lambung mangkurat yang akhirnya menjadi Juara II GIMSCO 2016, tetapi hanya
beberapa jam, saya tukar kamar, agar bisa bersama kak adi, dan juga permintaan
teman-teman yang lain, agar bisa belajar bersama tanpa harus sembunyi-sembunyi
lagi seperti ketika sekamar dengan anak FK lain.
Rangkaian acara GIMSCO 2016 “Olimpiade Anatomi”
diawali dengan opening ceremony pada hari pertama, terdiri dari
sambutan-sambutan pihak penyelenggara dan fakultas, pengenalan budaya Daerah
Istimewa Yogyakarta, serta acara hiburan yang menemani santap malam kami.
Suasana santap malam pada hari kedatangan para delegasi.
Pada hari kedua dimulai kegiatan perlombaan dengan diadakan babak penyisihan tahap I. Pada tahap ini 95 tim yang ikut mengerjakan soal Tentamen yang terdiri dari 60 soal yang masing-masing soal harus dijawab secara individu dalam waktu 30 detik (total waktu pengerjaan 30 menit) dan semua perintah menjawab dan soal - soal dituliskan dalam bahasa Inggris, ini yang membuat saya cukup sulit karena kemampuan bahsa inggris saya yang sangat bobrok. Di babak pertama dari 95 tim diseleksi menjadi 60 tim yang maju ke babak penyisihan tahap II, kami baik tim A dan Tim B berhasil masuk ke 60 besar.
Nah, ini nilai kami di BPT I (Tentamen):
saya dan kak Adi (GIMSCO 058)
Berbaris menuju Lab. Anatomi FK UGM
Persiapan Tentamen dan arahan didepan Lab. Anatomi FK UGM
Suasana Tentamen (kak Adi on frame)
Setelah ujian, kami diajak BPT II kami diajak untuk
mengunjungi beberapa objek wisata (Malioboro dan Ramayana) yang ada di
Yogyakarta. Objek wisata yang kami kunjungi merupakan tempat yang dapat
menggambarkan kebudayaan dan keindahan alam Yogyakarta. Kami berangkat
menggunakan BUS. Dimalioboro, kami hanya dibiarkan berjalan sendiri mencri
belanjaan dan sampai batas waktu ditentukan, kami harus sudah dalam BUS Kembali.
Setelah itu kami menuju ketempat belanja oleh-oleh, dan menuju ke Ramayana,
menonton pertinjukan hanoman dkk, sangat seru menyaksikannya sangat kental
dengan hudaya jawa, dan saya jatuh cinta dengan itu, hahaha.
Kedua foto diatas waktu kami menonton Ramayana yang diiringi musik adat jawa.
Keesokan harinya, kami dikumpulkan lagi di auditorium
FK UGM, untuk menyaksikan pengumuman 25 tim yang berhak masuk ke semifinal.
Sangat gugup karena pengumuman disampaikan melalui video dan puji Tuhan ... Selanjutnya di dari kemungkinan menjadi kenyataan.
Setelah melalui
OSPE, kami lanjut ke tahap MCQ, 120 nomor soal dengan waktu pengerjaan 50 detik
/ soal. Mungkin sedikit kaget bagi saya, saya mengganggap rendah apa yang kami
pelajari di UNTAD, saya merasa kami mungkin Mahasiswa terbodoh yang berangkat,
namun ketika menghadapi soal, ternyata, sama seperti yang kami pelajari di
UNTAD terutama soal basic musculoskeletal, kami berbagi tugas mengerjakan soal
dan pasangan saya yang salin ke LJK., btw, kalau rasa tidak nyambung, bisa baca cerita awalnya di IMO UPH 2016.
Ketika waktu hampir habis, kami semakin terpacu, dan waktu habis, kami diminta mengangkat tangan, dan sayangnya karena kecerobohan saya sendiri, soal yang tergolong sangat mudah dan sudah saya jawab di Lembar soal, kami lupa menyalinnya ke LJK, sekitar belasan sampai 20an nomor, karena ada kolom kosong yang kami sadari ketika waktu sisa 10an detik lagi. Saya berusaha mencari-cari kesempatan untuk menyalinnya, dan saya membacakan jawaban, dan teman saya yang salin, ketika saya bacakan E, teman saya mengisi D, dan pekerjaan kami dikumpul, saya sangat menyesal, sudah curi waktu malah tambah salah, karena menggunakan benar +2 dan salah -1, bukannya tambah benar, malah tambah salah.Selepas Babak MCQ kami kumpul kembali di ruang tunggu makan, sambil saya berusaha tahan tangisan saya, jujur pertamakalinya saya berharap di Ajang ini, yang semulanya saya hanya berharap tidak menjadi juru kunci, eh, ketika melihat soal yang kurang lebih sama dengan yang kami pelajari, saya berharap lebih besar, saya berharap tembus semifinal. Bertemu dengan rekan-rekan UNTAD di cabang lain, saya berusaha tertawa, tapi dada saya rasa sesak sekali, sangat menyesal dan pingin nonjok muka sendiri, akhirnya ketika duduk, orang diam-diam semua, saya terus mengingat kejadian tadi, akhirnya saya tak mampu menahan tangisan saya, terserah apa kata teman-teman saya yang menertawai saya, tetapi saya memang se-“mellow” itu.
Pengumuman Tahap pre-eliminasi tiba, dan inilah nilai kami, nomor tim 438, kami hanya benar 15 dari 40 nomor tentamen, namun sudah cukup tinggi dibanding yang lain. Dan untuk MCQ memang sangat rendah, saya hitung-hitung biarpun ditambah 15an nomor betul yang kami kebablasan, tetap kami tidak masuk di semifinal.
Pada saat itu saya hanya membandingankan dengan Delegasi UNHAS (437), karena mereka berhasil tembus Final pada IMO 2015, dan juga sama-sama dari sulawesi dan mereka dari Universitas yang diperebutkan di Kawasan indonesia timur, maaf ya teman-teman UNHAS jika membandingkan, hehhe, bukan membandingkan sih, tapi menjadi acuan.
Beruntung ada babak Survival. Setelah MCQ di tahap pre-eliminasi, kami kembali ke paragon hotel, dan istirahat, lalu besoknya kami tes MCQ kembali di babak Survival, ada 4 tim yang nantinya lolos. Pada tahap survival, tersedia 150 nomor soal dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat, yaitu; 24 detik/soal atau 60 menit untuk 150 soal. Sementara pengerjaan kami sangat kacau juga kehilangan penghapus dan mengambil dengan kurang sopan terhadap pasangan UNHAS karena langsung tarik baru bilang pinjam. Tapi itu karena kami gugup. Kami kerja dengan serius dan berusaha menjawab soal dengan cepat. Kami tidak mau mengulang kesalahan yang sama, dan hasilnya…
Tiba saat lecture bahasa inggris, promosi sponsor, dll, lalu pengumuman 4 tim yang berhak masuk semifinal menemani 8 tim yang lolos di tahap preeliminasi. Jujur, saya sangat berharap dalam hati, meskipun saya tidak katakan, meskipun saya katakan ke rekan-rekan dari UNTAD, kami sangat tidak berharap dan tidak mungkin gol, saya sugguh sangat berharap, namun hasilnya, kami tetap tidak mendapat kesempatan itu. Sangat kecewa tentunya, tetapi saya berpikir, ini wajar, karena kami yang boleh dikatakan tidak mempunyai persiapan khusus, seharusnya memang diposisi ini, bukan sebagai semifinalist, yang layak adalah mereka yang betul-betul berjuang dan berjerih lelah belajar sebelumnya, karena Tuhan memperhitungkan setiap usaha kita. nah dibawah ini nilai kami saat survival bro, dari 44 tim hanya akan dipilih 4 tim, dan teryata kami ada di urutan 7 bro, hahaha, sudahlah, kami sudah sangat bersykur, tetapi tetap tidak berniat menghentikan langkah kami.
Selesai tahap lomba, kami mengikuti lecture 3 Dimensi di cinemax di LIPPO, Karawaci dan menonton Tahap Final yang memberikan saya sejuta harapan dan motivasi. Pada hari minggunya kami dikumpulkan untuk lari bersama keliling lippo dan saya yang orangnya kampungan yang baru pertama kali ke tangerang, dan kedua kalinya ke Jakarta, melihat pemandangan saat lari diperumahan elit dengan lapangan golf terbentang dikiri dan kanan, membuat saya terpukau. Kami akhirnya berkumpul di halaman FK UPH dan ada acara hiburan dan pelepasan balon, sambil mengatakan “Optima est victor”!.
Nah foto ini saat lari di komplex LIPPO
Kalau ini, waktu dikamar hotel, sempat foto pemandangan kebawah,
soalnya kami di lantai 12
Ini foto diacara penutupan dan makan malam, sekaligus pengumuman juara,
yang dilaksanakan di main campus UPH, btw, ini lapangan basket loh guys.
Ini foto bersama delegasi regio palu, sama anak FK UNISA
Ini suasana lecture 3D di Cinemax
Ini foto bareng setelah Lecture 3D di Cinemax
3 foto diatas adalah foto bareng LO kami, dan maafkan kami yang selalu
mengganggumu dan berfoto menggunakan gaya cipit Jacq
Nah, ini dia orangnya! Kenalkan partner saya; Iniche Tinta.
Inilah LO kami; adik Jacqueline, wkwkwk
Acara usai, dan kami balik palu, setibanya di Palu (masih dalam pesawat),
kami berfoto gaya cipit dan mengirimnya ke Jacq
Masih banyak hal yang saya tidak ceritakan, tetapi biarlah gambar yang menceritakan pengalaman berharga saya kali ini. Terimakasih Buat teman saya Elfiana Ibrahim divisi PendPro HMPD UNTAD yang saya sangat kagumi, yang bersusah payah megurus pendelegasian kami meskipun dia bukan delegasi. Jerih lelahmu tak akan sia-sia ner. Terimakasih juga buat pasangan saya, partner saya, teman saya Iniche Tinta yang setia menemani, membantu dan juga yang selalu “curcol” diwaktu sengang, hehehe. Tenanglah, saya adalah pendengar yang baik. Terimakasih juga buat rekan-rekan seperjuagan delegasi IMO UPH 2016, Ricky, kak Ery, kak Wahid, ka Opi, kak Chesy dan kak Hendra Saleh, maaf, kalian selalu saya susahkan selama disana, dan tak lupa Buat Jacqueline; LO kami yang baik hati yang setia mendampingi kami.
Rendah hati harus, tapi jangan rendah diri, berusahalah dahulu. Tak penting dimana kau di didik, tak penting di Universitas apa kau dikembangkan, tapi belajarlah, tekunlah, tingkatkanlah motivasi diri dan berdoalah, maka engkau dapat sejajar dengan Universitas lain yang terdepan, ingat sob, Tuhan memperhitungkan tiap usaha yang kita lakukan.
Thank God for this Experience.
Optima est
victor! Slogan ini mungkin akan membekas dibenak saya hingga …, arti dari frase
ini adalah yang terbaik adalah pemenang. Frase ini berasal dari bahasa latin,
yang menjadi bahasa nenek moyang ilmu kedokteran.
IMO atau
Indonesian International Medical Olympiad adalah event olimpiade yang rutin dilaksanakan tiap tahun,
sejak tahun 2010. IMO mejadi wadah adu pengetahuan antar fakultas kedokteran
di-Indonesia, dan juga diikuti oleh beberapa Institut kedokteran dari luar
negeri.
Pada tahun ini,
UPH (Universitas Pelita harapan, Tangerang) diamanatkan memegang tender IMO
2016. IMO UPH 206 mempertandingkan enam cabang; Cardiorespirasi,
Neuropsikiatri, Tropical Infection, Uroreproduksi, Digestive dan Musculoskeletal.
Pindah scene,
bulan mei atau juni kemaren difakultasku (FKIK UNTAD), pendpro HMPD mengadakan
seleksi Medical Class Olympiad yang nantinya akan dikirim menjadi delegasi
SPORA dan IMO. Kabar itu hanya sekedar melintas di telingaku, tidak pernah terpikir
mau join. Ketika tengang waktu pendaftaran hampir tutup, seorang teman saya
yang saya anggap paling pinter dan juga teman akrab saya, mengajak saya via
line.., yah..tanpa berpikir saya lagsung oke saja, kemudian sy browsing
mengenai apa itu IMO, karena memang sy belum tahu sama sekali, ternyata itu
lomba yang …..bla… bla…., nah pada waktu itu, saya berada diawal blok 10 yang
berjudul “Musculoskeletal and Locomotion”. Kemudian teman saya ini menanyakan
kalau begitu, kita ikut yang mana?, nah saya bilang saja musculoskeletal,
bilangnya sekalian belajar buat blok ini.
Singkat cerita,
seleksi dilaksanakan, meskipun bagi saya itu bukan seleksi, karena semua yang
diseleksi lulus menjadi delegasi.., malas bahas tentang itu… nah, karena itu
kamipun turut menjadi delegasi IMO dicabang musculoskeletal. Sampai mendekati Event,
saya hanya ekspektasi saja belajar, nah, berhubung dikampus saya tidak
bodoh-bodoh amat mengenai anatomi, maka saya hanya mempertajam ilmu anatomi
musculoskeletal dan belajar ilmu klinis dasar, pembimbingan oleh dr. Ardi
Moenir, Sp. OT juga kami lakukan meskipun hanya sekali tapi menjadi motivasi
saya untuk mau belajar…, mengingat pengalaman senior tahun-tahun sebelumnya di
IMO, saya hanya berpikir “Tuhan, semoga kami tidak menjadi 5 juru kunci atau 5
team dengan nilai terendah”, karena memang niat saya hanya untuk jalan-jalan
pada walnya, juga membanggakan orang tua, bahwa anaknya pergi olimpiade
kedokteran di UPH… “wuihh macam hebat banget, padahal ketek.. haha”. Ketika H-30 Hari saya dan rekan saya sudah
merencanakan banyak, namun seperti biasa tidak terlaksana, mungkin karena sifat
pemalas dan pendang enteng saya.. hingga tiba saatnya kami hendak berangkat,
dan yang harusnya saya siapkan otak, saya hanya mempersiapkan baju-baju dalam
koper saya.
Suasana menunggu ujian, semua pada belajar.
Ini suasana saat registrasi, waktu baru datang
Ini suasana waktu mau tentamen
Suasana saat ujian MCQ
Tahun ini FKIK
UNTAD mengirim 8 orang delegasi yang berbeda angkatan dan terbagi dalam 4
cabang, dari musculoskeletal ada saya (2014 )dan rekan saya iniche tinta(2014),
dari cabang cardiorespi ada ricky (2014) dan kak cesy (2013), dicabang
digestive ada kak wahid (2013) dan kak hendra (2013), dan cabang tropical
infection ada kak Ery(2013) dan kak Opi (2013). Setibanya di UPH (12 Okober
2016) kami mengikuti pembukaan, dan breefing lomba. Di breefing saja sudah
banyak muka-muka pinter yang saya lihat, meskipun kadang timbul rasa angkuh
dalam diri saya, bahwa ini yang banyak bicara gk pinter-pinter amat kayak yang
diam-diam lainnya, ahaha.
IMO UPH 2016
diikuti oleh 68 universitas dan 628 delegasi yang terbagi kedalam 6 cabang lomba.
Tiap cabang akan menghadapi pre-eliminasi
stage yaitu soal Pilihan ganda 120 nomor dengan waktu pengerjaan 50 detik /
soal, OSPE (Tentamen) yang terdiri dari beberapa cabang ilmu, anada anaomi, pa,
radiologi, histology, dll, yang berjumlah 20 stasiun, tiap stasiun ada 2
pertanyaan, dan tiap stasiun diberiwaktu 40 detik. Berikutnya dari sekitaran
50an tim akan terpilih 8 tim yang akan masuk ketahap semifinal, namun bagi yang
belum lolos, masih ada tahap survival yang juga menguji kembali kemampuan dalam
bentuk soal pilihan ganda yang berjumlah 150 nomor dengan waktu pengerjaan yang
lebih singkat, yaitu; 24 detik/soal atau 60 menit untuk 150 soal, maka akan
terpilih 4 tim yang akan bergabung dengan 8 tim yang telah menunggu di
semifinal. Total 12 tim di semifinal akan menghadapi OSCE dan OSPI (khusus
tropical infection) dan MCQ kembali, dan menyisakan 5 Tim yang akan bertanding difinal
menghadapi SOCA(analisis kasus) dan Medical Quiz (Semacam LCT).
Hari pertama
lomba menghadapi babak pre-eliminasi, saya dan pasangan saya menghadapi OSPE
terlebih dahulu. Pada saat OSPE, kami gelagapan, terutama saya, melihat soal
pertama saya sangat gugup, dan berlanjut sampai ke soal-soal berikutnya. Kami
tidak menyusun strategi dengan baik, kami tidak tahu siapa yang harus menulis?
siapa yang baca soal? dan pokonya sangat kacau, berhubung kami teman yang juga
sering bertengkar jadi agak ricuh menghadapi OSPE. Mungkin hanya kami yang sangat
rebut saat ujian. (seperti foto diatas, ketika kami hendak memasuki lab anatomi sambil berlarian, btw, bak-bak disamping itu mungkin kolamnya cadaver, hehe). Sebelum ujian saya katakan kepasangan saya bahwa “hukum” saya
apabila ada soal anatomi didalam nanti yang saya tidak ketahui. Tuhan menghukum
kesombongan saya, yang hanya mampu menjawab 6 soal dari 10 soal anatomi yang
ada. “Siapa yang meninggikan diri, maka ia akan direndahkan”. Inilah yang
terjadi saat saya menjalani OSPE.
Setelah melalui OSPE, kami lanjut ke tahap MCQ,
120 nomor soal dengan waktu pengerjaan 50 detik / soal. Mungkin sedikit kaget
bagi saya, saya mengganggap rendah apa yang kami pelajari di UNTAD, saya merasa
kami mungkin Mahasiswa terbodoh yang berangkat, namun...
Berikut kelanjutannya, yang terbaik adalah pemenang!
Don't Hurt Them
Pascal Adventra Tandiabang | Senin, Februari 01, 2016 |
Kedokteran
Photo by: @Arief.munandar
Loc: Desa Sabang. Kec. Dampelas. Kab.Donggala, Sulawesi Tengah
Do not use reason to learn, do not use
for good reason the demands of religion, culture, and other medical reasons.
Do not dare to do them if you just make it feel the pain of every thing that
you are doing.
Let them get the more precise and able to handle them. Out there
more capable and do not hurt them.
Stop your reason that they cringed because
amused.
Stop your reason that they are just crying out of fear.
Stop your
reason they were screaming because seeing his friend screaming.
I've also been
through it, fortunately, I was done by the right person and capable, I am
grateful, I never feel the pain of each stitch, every seam, and each tear as
they feel.
I do not forbid you, I just wanted you to know it so they, I am sure
you did not experience it first. I only advised, make sure they anasteticated
well, work fast, precise, neat, and lege artist.
Probably not one of you, may
effect anasteticum substance too quickly disappear. But do not force continue
the job if the effect was lost anasteticum substance. Do not give anasteticum
substance over a reasonable limit per day.
Maybe not you but none of your
colleagues.
I'm not as good as you, I just feel a part of them traumatized for
your actions.
Do not hurt them; They are not dolls,
they are not guinea pigs.
They are human!
Surat Terbuka untuk Pemerintah dari Mahasiswa FK UNTAD
Pascal Adventra Tandiabang | Minggu, Agustus 03, 2014 |
Kedokteran
Surat Terbuka untuk Pemerintah (Presiden, DIKTI dan Pemerintah daerah) dan Rektor
Palu, Juli 2014
Kepada YTH
Pemerintah (Presiden, DIKTI dan Pemerintah daerah) dan Rektor
di-Tempat
Kepada YTH
Pemerintah (Presiden, DIKTI dan Pemerintah daerah) dan Rektor
di-Tempat
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Dengan hormat,
Menanggapi pembiayaan per semester untuk mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako, dimana terjadi perubahan yang tampak cukup signifikan dari sejumlah Rp 2.750.000,- menjadi Rp 9.160.000,- terhitung sejak bulan Juli 2014.
Menanggapi pembiayaan per semester untuk mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako, dimana terjadi perubahan yang tampak cukup signifikan dari sejumlah Rp 2.750.000,- menjadi Rp 9.160.000,- terhitung sejak bulan Juli 2014.
Saat ini sudah memasuki masa akhir pembayaran biaya semester atau SPP
bagi mahasiswa Universitas Tadulako untuk periode 2014/2015 bulan
Juli-Januari. Kami selaku mahasiswa klinik mahasiswa kedokteran
Universitas Tadulako menyatakan bahwa beban biaya yang harus kami
tanggung dengan jumlah sebagaimana tertera di atas cukup terasa
memberatkan bagi sebagian besar di antara kami.
Sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 pada paragraf 4 :
"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,...”, maka sudah selayaknya pendidikan akan menjadi prioritas pemerintah.
"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,...”, maka sudah selayaknya pendidikan akan menjadi prioritas pemerintah.
Fakultas Kedokteran saat ini telah berkembang menjadi sebuah fakultas
dengan daya nilai jual yang tinggi dan seiring berkembangnya hal itu
maka stigma masyarakat tentang mahasiswa kedokteran juga berkembang.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, Fakultas Kedokteran, dimanapun
universitasnya merupakan fakultas dengan sekumpulan mahasiswa yang
“berduit” yang dikenal dengan istilah kaum borjuis. Yah, tidak ada yang
salah dengan istilah itu karena kitalah yang membentuk stigma itu. Namun
apakah pendidikan kedokteran hanya menjadi milik “kaum borjuis” itu?
Dalam sila kelima pada Pancasila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, menyatakan secara tegas bahwa rakyat Indonesia berhak mendapatkan keadilan salah satunya dalam bidang pendidikan.
Kami sadar bahwa proses pendidikan juga membutuhkan biaya. Biaya untuk fasilitas, biaya tenaga pengajar, dan biaya lainnya yang dipergunakan dalam menunjang proses pendidikan semuanya diperlukan, tetapi kami juga paham bahwa pemerintah tidak akan pernah tutup mata dengan kondisi ini. Pemerintah pasti selalu memikirkan segala yang terbaik agar rakyat Indonesia bisa menikmati pendidikan itu.
Kami teringat akan seorang anak tukang becak yang memperoleh gelar dokter di Universitas Gadjah Mada. Seorang anak dengan penghasilan orang tua sebesar 20-30 ribu perhari ini mampu mewujudkan mimpinya bahwa suatu saat dia bisa membantu orang lain tanpa pamrih, sebab ia pun pernah merasakan menjadi orang tidak mampu.
Berbagai hal telah diajarkan kami selama kami mengenyam pendidikan kedokteran ini. Nilai-nilai humanistik selalu dijejalkan dalam otak dan terutama dalam hati kami, agar kami senantiasa mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan kami. Keikhlasan adalah kata yang mutlak harus ada dalam hati kami. Nilai-nilai individualistik dan egoisme kami harus dikesampingkan karena bagi kami orang lain yang membutuhkan bantuan kami adalah prioritas bagi hidup kami, namun apakah beban biaya yang harus kami tanggung selama proses pendidikan ini akan mendidik kami menjadi orang-orang yang memiliki nilai keadilan sosial?
Kami sebagai calon dokter memiliki hasrat yang luhur ketika kami menempuh pendidikan kedokteran sejak pertama kali menginjakkan kaki kami di Kedokteran, yakni agar kami dapat mengabdi tanpa pamrih bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Kami memiliki sumpah, seperti yang terkandung dalam sumpah Hippocrates, bahwa
“.......... Dengan kemurnian dan dengan kesucian saya akan mempraktekkan Seni (Kedokteran) ini. Saya akan membantu orang yang sedang dalam penderitaan, ......... Kemanapun saya melangkah saya akan mendahulukan kepentingan orang sakit, dan tidak memberikan persetujuan atau kesediaan untuk melakukan kejahatan, ...........”
Kita semua memahami bersama bahwa karakter individu seseorang ada yang terbentuk sejak ia lahir dan ada pula yang terbentuk karena lingkungannya yang membentuk karakternya, entah apakah ia akan menjadi karakter dengan sifat kepedulian yang tinggi ataukah justru ia akan menjadi individu dengan sifat kepedulian yang rendah? Ketika kita melihat beban biaya pendidikan yang tinggi dan terasa sangat besar bagi sebagian besar di antara kami, maka jangan pernah menyalahkan kondisi jika melahirkan oknum-oknum dokter yang mungkin berpikir untuk memperkaya diri secara material, karena proses pendidikan tidak mengajarkannya demikian.
Sebagian besar di antara kami memiliki mimpi dan keinginan untuk memajukan daerah tempat kami menuntut ilmu, tetapi saat ini mimpi mungkin hanya sebatas kata yang sesuai dengan maknanya bahwa kami hanya bisa mewujudkannya melalui mimpi kami saat kami bisa tertidur karena beban biaya ini pada akhirnya harus memupuskan keinginan kami itu. Tingginya biaya pendidikan yang harus kami tanggung pada akhirnya menyeleksi kami bukan berdasarkan kemampuan dan motivasi baik kami untuk terus mengabdi pada masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tetapi berdasarkan banyak tidaknya uang yang orangtua kami miliki untuk terus membiayai kami sekolah hingga akhir proses pendidikan ini.
Kami pun berharap Anda sekalian sebagai pembuat kebijakan di Sulawesi Tengah untuk memperhatikan kami. Apakah Anda rela Fakultas Kedokteran negeri di Sulawesi Tengah diisi oleh orang-orang dari luar Sulawesi Tengah? Sekali lagi kami sampaikan bahwa anak-anak Sulawesi Tengah sangat mampu secara intelektual untuk menjadi Dokter, namun tidak mampu secara fiansial. Tengok saja daerah-daerah lain yang memperoleh dukungan penuh pemerintah daerahnya, adakah dari mereka yang tidak berprestasi di tingkat Nasional bahkan di tingkat Internasional? Apakah anak-anak bangsa mereka yang menjadi Dokter yang biasa-biasa saja? Mereka sebagian besar menggunakan anak-anak daerah mereka untuk mengabdi bagi daerah mereka, sebab siapa lagi yang peduli terhadap daerah kecuali anak-anak daerah mereka sendiri? Adakah Sulawesi Tengah dapat dibangun secara optimal oleh anak-anak daerah lain? Ketika pemerintah daerah memperhatikan mereka, kami percaya mereka akan berjuang dengan sekuat tenaga tanpa pamrih untuk membangun daerah ini.
Ketika proses pendidikan mengajarkan seorang dokter menjadi seorang “pedagang” maka ketika dalam proses pendidikannya ia sedang membeli “barang" yang mahal maka sudah tentu jika ia telah menyelesaikan proses pendidikan ini, maka ia kembali akan menjual “barang” ini dengan harga yang setimpal pula, hingga stigma masyarakat mengenai biaya kesehatan mahal tidak akan pernah berubah. Masyarakat akan takut berobat ke dokter karena biaya yang harus mereka tanggung sangat besar. Apakah kita membutuhkan calon dokter dengan pemikiran seperti ini?.
Tentunya dari hati nurani bapak/ibu tidak menginginkannya dan bahkan akan mengutuk jika terjadi hal-hal seperti ini. Tetapi apakah hal ini menjadi kesalahan mereka sepenuhnya? Jawabannya tetap tidak, karena proseslah yang membentuk mereka pada akhirnya berpikir seperti itu dan ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam membentuk karakter ini.
Bagaimana pula dengan orangtua kami? Tidak ada seorang orangtuapun yang ingin melihat harapan anaknya pupus di tengah jalan. Para orangtuapun akan berjuang agar anaknya tetap melanjutkan proses pendidikannya tetapi apakah dengan menjual seluruh harta benda yang kami miliki, meminjam uang kesana-kemari akan menjadi solusi dari biaya pendidikan kami. Untuk sementara yah, tetapi selanjutnya bagaimana? Biaya hidup bukan hanya semata-mata pembiayaan Ko-Ass kami, ada banyak hal yang mesti dibiayai. Biaya hidup sehari-hari, belum lagi kami yang merantau sudah tentu biaya hidup bertambah, dan kami bukanlah anak semata wayang yang segalanya diprioritaskan pada kami. Kami juga punya adik, punya kakak yang masih melanjutkan studi yang juga memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Apakah tidak ada harapan bagi kami untuk melanjutkan studi kami ini. Kami yang bermimpi dan bercita-cita untuk memajukan kesehatan di daerah kami harus mengubur mimpi kami karena kami tidak sanggup membayar biaya pendidikan kami yang tiba-tiba harus naik di tengah jalan. Kami tau dan paham bahwa pemerintah kami, tidak akan pernah menutup mata untuk hal ini dan selalu akan berjuang mencari solusi buat masalah kami.
Menutup surat terbuka ini, kami teringat akan kisah dr. Lo Siaw Ging yang mengobati pasiennya secara gratis, serta dr. F. X. Soedanto yang hanya dibayar seribu rupiah oleh pasiennya. Kami memiliki cita-cita untuk menjadi dokter dengan pengabdian tinggi seperti mereka. Mereka adalah role model kami sebagai calon dokter. Tidak pernahkah terbesit di pikiran Anda bahwa Sulawesi Tengah memiliki ratusan orang dengan cita-cita luhur seperti mereka? Kami berharap bahwa kami pun juga dapat menjadi dokter yang mengabdi tanpa pamrih seperti mereka.
Terimakasih karena Bapak/Ibu mau membaca surat kami dan kami akan sangat berterimakasih karena Bapak/Ibu tidak akan tinggal diam untuk masalah kami ini.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh .
Salam Hangat,
Dokter Muda
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako
Dokter Muda
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako






























