Yang Terbaik adalah Pemenang

Setelah melalui OSPE, kami lanjut ke tahap MCQ, 120 nomor soal dengan waktu pengerjaan 50 detik / soal. Mungkin sedikit kaget bagi saya, saya mengganggap rendah apa yang kami pelajari di UNTAD, saya merasa kami mungkin Mahasiswa terbodoh yang berangkat, namun ketika menghadapi soal, ternyata, sama seperti yang kami pelajari di UNTAD terutama soal basic musculoskeletal, kami berbagi tugas mengerjakan soal dan pasangan saya yang salin ke LJK., btw, kalau rasa tidak nyambung, bisa baca cerita awalnya di IMO UPH 2016. 

Ketika waktu hampir habis, kami semakin terpacu, dan waktu habis, kami diminta mengangkat tangan, dan sayangnya karena kecerobohan saya sendiri, soal yang tergolong sangat mudah dan sudah saya jawab di Lembar soal, kami lupa menyalinnya ke LJK, sekitar belasan sampai 20an nomor, karena ada kolom kosong yang kami sadari ketika waktu sisa 10an detik lagi. Saya berusaha mencari-cari kesempatan untuk menyalinnya, dan saya membacakan jawaban, dan teman saya yang salin, ketika saya bacakan E, teman saya mengisi D, dan pekerjaan kami dikumpul, saya sangat menyesal, sudah curi waktu malah tambah salah, karena menggunakan benar +2 dan salah -1, bukannya tambah benar, malah tambah salah.

Selepas Babak MCQ kami kumpul kembali di ruang tunggu makan, sambil saya berusaha tahan tangisan saya, jujur pertamakalinya saya berharap di Ajang ini, yang semulanya saya hanya berharap tidak menjadi juru kunci, eh, ketika melihat soal yang kurang lebih sama dengan yang kami pelajari, saya berharap lebih besar, saya berharap tembus semifinal. Bertemu dengan rekan-rekan UNTAD di cabang lain, saya berusaha tertawa, tapi dada saya rasa sesak sekali, sangat menyesal dan pingin nonjok muka sendiri, akhirnya ketika duduk, orang diam-diam semua, saya terus mengingat kejadian tadi, akhirnya saya tak mampu menahan tangisan saya, terserah apa kata teman-teman saya yang menertawai saya, tetapi saya memang se-“mellow” itu.

Pengumuman Tahap pre-eliminasi tiba, dan inilah nilai kami, nomor tim 438, kami hanya benar 15 dari 40 nomor tentamen, namun sudah cukup tinggi dibanding yang lain. Dan untuk MCQ memang sangat rendah, saya hitung-hitung biarpun ditambah 15an nomor betul yang kami kebablasan, tetap kami tidak masuk di semifinal.

Pada saat itu saya hanya membandingankan dengan Delegasi UNHAS  (437), karena mereka berhasil tembus Final pada IMO 2015, dan juga sama-sama dari sulawesi dan mereka dari Universitas yang diperebutkan di Kawasan indonesia timur, maaf ya teman-teman UNHAS jika membandingkan, hehhe, bukan membandingkan sih, tapi menjadi acuan.


Beruntung ada babak Survival. Setelah MCQ di tahap pre-eliminasi, kami kembali ke paragon hotel, dan istirahat, lalu besoknya kami tes MCQ kembali di babak Survival, ada 4 tim yang nantinya lolos. Pada tahap survival, tersedia  150 nomor soal  dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat, yaitu; 24 detik/soal atau 60 menit untuk 150 soal. Sementara pengerjaan kami sangat kacau juga kehilangan penghapus dan mengambil dengan kurang sopan terhadap pasangan UNHAS karena langsung tarik baru bilang pinjam. Tapi itu karena kami gugup. Kami kerja dengan serius dan berusaha menjawab soal dengan cepat. Kami tidak mau mengulang kesalahan yang sama, dan hasilnya… 

Tiba saat lecture bahasa inggris, promosi sponsor, dll, lalu pengumuman 4 tim yang berhak masuk semifinal menemani 8 tim yang lolos di tahap preeliminasi. Jujur, saya sangat berharap dalam hati, meskipun saya tidak katakan, meskipun saya katakan ke rekan-rekan dari UNTAD, kami sangat tidak berharap dan tidak mungkin gol, saya sugguh sangat berharap, namun hasilnya, kami tetap tidak mendapat kesempatan itu. Sangat kecewa tentunya, tetapi saya berpikir, ini wajar, karena kami yang boleh dikatakan tidak mempunyai persiapan khusus, seharusnya memang diposisi ini, bukan sebagai semifinalist, yang layak adalah mereka yang betul-betul berjuang dan berjerih lelah belajar sebelumnya, karena Tuhan memperhitungkan setiap usaha kita. nah dibawah ini nilai kami saat survival bro, dari 44 tim hanya akan dipilih 4 tim, dan teryata kami ada di urutan 7 bro, hahaha, sudahlah, kami sudah sangat bersykur, tetapi tetap tidak berniat menghentikan langkah kami.

Selesai tahap lomba, kami mengikuti lecture 3 Dimensi di cinemax di LIPPO, Karawaci dan menonton Tahap Final yang memberikan saya sejuta harapan dan motivasi. Pada hari minggunya kami dikumpulkan untuk lari bersama keliling lippo dan saya yang orangnya kampungan yang baru pertama kali ke tangerang, dan kedua kalinya ke Jakarta, melihat pemandangan saat lari diperumahan elit dengan lapangan golf terbentang dikiri dan kanan, membuat saya terpukau. Kami akhirnya berkumpul di halaman FK UPH dan ada acara hiburan dan pelepasan balon, sambil mengatakan “Optima est victor”!.

 Nah foto ini saat lari di komplex LIPPO

 Kalau ini, waktu dikamar hotel, sempat foto pemandangan kebawah,
soalnya kami di lantai 12

 Ini foto diacara penutupan dan makan malam, sekaligus pengumuman juara,
yang dilaksanakan di main campus UPH, btw, ini lapangan basket loh guys.

 Ini foto bersama delegasi regio palu, sama anak FK UNISA

Ini suasana lecture 3D di Cinemax

 Ini foto bareng setelah Lecture 3D di Cinemax

 3 foto diatas adalah foto bareng LO kami, dan maafkan kami yang selalu
mengganggumu dan berfoto menggunakan gaya cipit Jacq

Nah, ini dia orangnya! Kenalkan partner saya; Iniche Tinta.

Inilah LO kami; adik Jacqueline, wkwkwk

Acara usai, dan kami balik palu, setibanya di Palu (masih dalam pesawat),
kami berfoto gaya cipit dan mengirimnya ke Jacq


Masih banyak hal yang saya tidak ceritakan, tetapi biarlah gambar yang menceritakan pengalaman berharga saya kali ini. Terimakasih Buat teman saya Elfiana Ibrahim divisi PendPro HMPD UNTAD yang saya sangat kagumi, yang bersusah payah megurus pendelegasian kami meskipun dia bukan delegasi. Jerih lelahmu tak akan sia-sia ner. Terimakasih juga buat pasangan saya, partner saya, teman saya Iniche Tinta yang setia menemani, membantu dan juga yang selalu “curcol” diwaktu sengang, hehehe. Tenanglah, saya adalah pendengar yang baik. Terimakasih juga buat rekan-rekan seperjuagan delegasi IMO UPH 2016, Ricky, kak Ery, kak Wahid, ka Opi, kak Chesy dan kak Hendra Saleh, maaf, kalian selalu saya susahkan selama disana, dan tak lupa Buat Jacqueline; LO kami yang baik hati yang setia mendampingi kami.

Rendah hati harus, tapi jangan rendah diri, berusahalah dahulu. Tak penting dimana kau di didik, tak penting di Universitas apa kau dikembangkan, tapi belajarlah, tekunlah, tingkatkanlah motivasi diri dan berdoalah, maka engkau dapat sejajar dengan Universitas lain yang terdepan, ingat sob, Tuhan memperhitungkan tiap usaha yang kita lakukan.

Thank God for this Experience.


Kalau rasa tidak nyambung, bisa baca cerita awalnya di IMO UPH 2016. 
Comments
0 Comments

0 Komentar:

Posting Komentar